Widya & Gama

Pagi ini aku diantar ayahku ke terminal. Rencana awal sih aku akan berangkat dari rumah jam 7 pagi, tapi nyatanya ayah mengantarku sekitar jam setengah 9. Bukan apa – apa, aku memang harus menyiapkan sarapan untuk ayah dan adikku dulu. Ibu meninggalkan kami semua saat umur adikku baru 2 bulan. Sungguh ironis memang nasib adikku. Tapi dia termasuk anak yang tegar.

Di lain sisi, aku adalah seorang yang rapuh. Tampak dari luar memang aku terlihat tabah, namun itu adalah trikku agar oarang lain tidak tahu tentang apa yang sebenarnya ada dalam hatiku. Di umurku yang menginjak kepala 3 ini masih belum ada seorang pria yang mendampingiku. Sebenarnya, banyak pria yang datang ke rumah, menemui ayah dan mengatakan keinginannya untuk meminangku. Namun, diantara puluhan pria itu, tak satupun diantara mereka yang menarik hatiku. Entahlah, aku juga bingung. Besar kemungkinan aku masih terbayang – bayang mantan pacarku saat SMA dulu. Dialah pacar pertama dan terakhirku. Bersamanya aku merasa nyaman. Ya… itulah yang kurasakan. Bagiku dia adalah lelaki yang sebenarnya dan dialah yang paling cocok mendampingiku.

Waktu itu dia meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Setelah lulus SMA dia pergi ke Jakarta. Dia pergi tanpa bilang apa – apa padaku. Hubungan kita waktu itu baik – baik saja. Malahan sehari sebelum dia pergi, dia mengatakan kalau pada suatu saat nanti ia akan datang kerumahku dan meminangku. Tapi nyatanya apa, dia meninggalkanku begitu saja. Dengan bodohnya, sampai sekarangpun aku masih percaya tentang semua janji – janjinya. Aku masih mencintainya. Semua hal tentang dialah yang membuatku menolak semua pria yang datang ke rumah.

Suatu hari aku mendapat kabar dari teman dekatku dulu waktu SMA, dia melihat Gama, ya… mantan pacarku itu, di sebuah pusat perbelanjaan di Malang. Dia bilang tahu dimana rumah Gama sekarang. Aku minta menceritakan keadaan Gama sekarang, tapi dia malah menyuruhku untuk datang ke rumahnya dan nanti dia akan menunjukkan dimana rumah Gama. Dia berjanji akan mempertemukanku dengan Gama. Ooo… aku baru ingat kalau keluarganya memang sudah pindah ke Malang beberapa bulan setelah kepergiannya.

Pagi ini aku ke terminal untuk menagih janji temanku itu. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Gama. Atau paling tidak aku tahu bagaimana keadaannya sekarang. Niatnya aku! Ya, itulah yang tak ku tahu, aku selalu bisa melakukan hal yang tidak biasa bila bersangkutan tentang dirinya. Entah magnet apa yang membuatku selalu ingin tahu tentang keadaannya saat ini. Aku adalah tipe wanita yang memegang teguh janji, bagiku perkataan Gama waktu itu adalah janji yang harus aku tagih. Walaupun nanti aku mungkin akan terhalang banyak kendala, seperti misalnya bagaimana kalau ternyata dia sudah menikah atau bahkan punya anak. Masa bodoh. Aku hanya ingin memastikan semuanya.

Di terminal ayah sudah berpesan kepadaku.

“Widya… ayah memberimu ijin untuk ke Malang mengejar cintamu yang hilang dengan satu syarat, sebulan setelah ini kau harus menikah, entah dengan siapa, dengan cinta yang kau kejar sekarang atau dengan salah satu pria yang datang ke rumah itu.”

“Ya ayah… percayalah aku akan menepati janjiku itu,” kataku dengan sepenuh hati.

“Ayah percaya. Ayah cuma mengingtkan kau. Lagipula umurmu ini sudah sangat cukup untuk menikah.”

Dalam hati aku membenarkan ucapan ayah, umurku memang sudah tidak mudah lagi. Aku juga sudah berjanji pada diriku sendiri, apapun yang terjadi nanti dengan hubunganku dan Gama aku akan menuruti apa yang dikatakan ayah.

Perjalananku ke Malang cukup lancar. Sekitar 4 jam kemudian, aku sampai di terminal Arjosari. Temanku sudah bilang tentang rute menuju rumahnya kepadaku. Akupun mengikuti petunjuk yang telah ia berikan melalui telpon waktu itu. Tak berapa lama kemudian aku diturunkan oleh angkutan yang membawaku di depan sebuah gang yang lumayan lebar untuk sebuah gang.  Di atas gapura gang tersebut bertuliskan “Melati Biru”. Ya memang benar, inilah alamat yang diberikan temanku kepadaku. Dia bilang kalau dia tinggal di jalan Adi Sucipto gang Melati Biru no. 45. Akupun menyusuri gang itu, dari rumah ke rumah aku perhatikan satu –per satu. Aku lihat dengan jelas tulisan nomor di masing – masing rumah. Nah, akhirnya aku temukan rumah dengan nomor 45. Aku pencet bel di sebelah pagar rumah tersebut. Keluarlah seorang wanita seusiaku berpakaian celana kain dan kemeja berenda – renda warna biru. Ya ampun, aku benar – benar nggak nyangka itu adalah teman SMAku dulu. Ratih namanya.

“Hai Wid, udah lama kita nggak jumpa ya?” katanya menyambut kehadiranku.

“Iya…,”  jawabku sekenanya.

“Apa kabarmu sekarang?”, tanya dia sambil membimbingku masuk ke dalam rumahnya.

“Ya, seperti yang kau lihat inilah Tih.”

“Ayo masuk,” Ratih mempersilahkan aku masuk.

“Suamimu mana Tih?” aku menanyakan suaminya karena memang aku belum pernah sekalipun melihat suaminya. Waktu mereka menikah memang aku diundang, tapi acara pernikahannya di Jakarta, jadi aku tidak bisa datang.

“Masih di kantor, nanti sore – sore juga sudah pulang.”

“Anakmu? Sudah berapa anakmu?”

“Belum Wid, Tuhan masih belum memberiku kepercayaan untuk mendapatkan anak,” jawab Ratih dengan muka sedih. Aku merasa menyesal sudah menanyakan itu.

“Maaf ya Tih, aku nggak bermaksud….,”

“Nggak papa kok,” jawabnya dengan muka tetap murung.

“Kamu nggak istirahat dulu Wid? Kan capek di perjalanan tadi. Sini aku kasih tahu dimana kamarmu,” Ratih menunjukkan kamar untuk aku beristirahat.

Memang aku capek sekali. Belum pernah aku melakukan perjalanan sepanjang ini. Paling banter aku pergi ke pusat perbelanjaan di kotaku. Aku nggak pernah mau jauh – jauh dari ayah dan adikku. Jadi aku memilih bekerja di sebuah perusahaan asuransi kecil di kotaku yang hanya berjarak sekitar 3 km dari rumahku.

Akupun tertidur lelap di kamar itu.

Aku terbangun setelah tidur sekitar 4 jam, hitung – hitung mengganti waktuku yang tadi aku gunakan untuk menempuh perjalanan ke sini. Badanku sedikit nyeri, aku bermaksud mandi air hangat sore ini. Akupun mengutarakan keinginanku pada Ratih. Dalam hati aku merasa tak enak, tamu kok mintanya macem – macem, ya… daripada aku nanti sakit sampai rumah.

Setelah mandi dan berganti pakaian aku langsung menemui Ratih di ruang keluarga. Ruangan itu besar, ada sofa warna merah marun yang terlihat jarang diduduki orang, ada televisi layar datar 21’, ada meja kaca yang di atasnya sudah terdapat makanan kecil dan aku yakin makanan itu ia suguhkan untukku. Ratih duduk di sofa itu sambil memegang remote. Sepertinya dia sedang gundah, terlihat dari cara dia menonton televisi, aku bisa melihat kalau pikiran sekarang telah melayang jauh entah kemana. Aku duduk di sebelahnya, dia tidak merespon kehadiranku, dugaanku sih, dia sedang asyik dengan pikirannya sendiri sehingga ia tidak menyadari hadirnya aku di sebelahnya.

“Hei Tih, lagi mikirin apa?” kataku membuyarkan semua yang telah dipikirkan Ratih.

Dia kaget dan hampir menjatuhkan remote dari tangannya. Aku merasa tidak enak hati.

“Nggak kok Wid… lagi ngelamun aja,” jawabnya.

“Sudah malam gini suamimu belum juga datang?”, tanyaku iseng. Habisnya aku masih belum melihat suaminya dari aku datang tadi.

“Masih belum, mungkin sebentar lagi.”

“Masih suka nonton film korea Tih?” tanyaku kemudian karena tiba – tiba aku ingat kalau Ratih pas SMA dulu suka sekali sama film – film korea. Sampai dulu pernah ia ijin pulang lebih dulu dari sekolah dengan alasan pusing hanya karena ia mau nonton film yang ia sukai. Dan hal seperti itu tidak hanya dilakukannya sekali.

“Masih, kenapa? Kau masih ingat ya masa – masa SMA dulu saat aku lebih memilih nonton film korea kesukaanku daripada ikut ulangan kimia?”, katanya sambil menerawang.

“Iya, sifatmu dari dulu memang gitu, kalau udah suka sama itu, ya harus didapatkan.”

“Ha ha ha…”, tawa Ratih sedikit dipaksakan.

Di sela – sela perbincangan kita, tiba – tiba aku mendengar ada langkah kaki yang mendekati kita.

“Tih.. Ratih… dimana kau?”.

Suara itu berasal dari luar ruang keluarga. Suaranya seperti suara laki –laki, tebakanku sih dia adalah suaminya Ratih. Kemudian Ratih keluar. Lalu aku mendengar suara kaki menuju lantai dua. Aku heran, kenapa Ratih nggak memperkenalkan suaminya kepadaku dulu sebelum ia naik ke atas. Atau mungkin besok pagi saja, suaminya kan capek. Tapi sepertinya aku merasa nggak sopan aja, masak ada teman istrinya ia nggak menemui. Apalagi ia kan nggak pernah bertemu denganku. Maklumlah, suami Ratih kan orang jakarta. Tahulah aku tipe – tipe orang Jakarta yang rasa sosialnya sangat tipis.

Aku menunggu Ratih keluar dari kamarnya sambil menikmati lawakan yang aku lihat di layar televisi. Dua puluh menit, tiga puluh menit, empat puluh menit, sampai satu jam aku menunggu Ratih namun ia tak kunjung keluar. Kenapa ya? Mungkin ia sedang melayani suaminya. Aku baru sadar kalau tugas istri adalah melayani suami, dan suami adalah prioritas utama, kalau teman sepertiku mah prioritas terakhir.

Bosan nonton televisi, akupun melangkahkan kakiku. Awalnya aku mau kembali ke kamarku, tapi entah kenapa aku tertarik untuk menaiki tangga menuju lantai dua. Sejak siang tadi aku masih belum ke atas. Maklumlah, kamar tamu letaknya kan di lantai dasar. Di ujung tangga aku menemukan foto besar, dari jauh terlihat seperti foto pengantin. Aku penasaran, dan akupun terus melangkahkan kakiku mendekati foto itu. Benar itu foto pernikahan Ratih. Aku perhatikan foto itu di keremangan, sepertinya aku pernah melihat lelaki yang bersanding di foto bersama Ratih itu. Ya ampun! Itu kan foto Gama!

Aku tidak dapat berteriak. Aku tidak dapat memaki. Aku hanya bisa menangis. Terisak sambil terus menatap foto  yang terpajang rapi di dinding itu. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, aku tidak pernah menyangka sebelumnya, dan akupun tidak menginginkan ini sebelumnya. Akupun tak tahu apa maksud dari foto ini. Pikiranku kosong.

Di kamar aku terus memikirkan apa yang ku lihat barusan. Apa aku hanya bermimpi, karena aku terlalu mengharapkan Gama. Tapi rasanya apa yang kulihat tadi adalah sesuatu yang nyata. Lalu? Siapa yang dapat menjelaskan tentang semua ini kepadaku. Tangisku tak dapat berhenti. Tak ada suara sak tangis memang, tapi air mataku terus menetes.

Pagi ini sangat cerah, tapi hatiku benar – benar amburadul. Aku bermaksud mencari tahu tentang kebenaran dan maksud dari foto yang kulihat tadi malam. Aku beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar itu. Setelah mandi aku keluar kamar. Aku menuju ruang makan. O… aku melihat sosok Gama yang sedang mengolesi rotinya dengan mentega. Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku merasa seperti saat pertama aku berjumpa dengannya bertahun – tahun yang lalu. Kemudian Ratih muncul di belakangku. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit ditebak. Saat itulah Gama menoleh ke arahku. Dia kaget melihatku berdiri disana. Ia menatapku dan Ratih bergantian.

Ratih membimbingku duduk di salah satu kursi di meja makan itu.

“Kalian pasti  bingung dan tidak menyangka akan bertemu disini,” kata Ratih datar.

“Sekarang aku akan menceritakan semuanya,” lanjut Ratih.

Aku dan Gama hanya diam dalam ketidakpercayaaan kami masing – masing.

“Aku memang yang mengatur kalian agar bertemu. Sebelumnya aku ingin  minta maaf padamu Wid, aku telah menikah dengan Gama. Dari SMA dulu aku memang telah menyukai Gama. Jauh sebelum kalian berpacaran. Kamu pasti tahu sifatku Wid, aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan. Dan keinginanku adalah menikah dengan Gama. Dengan berbagai cara, aku sengaja memutuskan komunikasi anatara kalian berdua. Aku gunakan cara – cara licik agar Gama mau menikah denganku. Tapi sekarang aku sadar, walau Gama menikah denganku, tapi hal itu tidak membuatku bahagia, malah membuatku tersiksa. Aku merasa bersalah padamu dan pada Gama.”

Ratih mengatakan hal itu sambil berkaca – kaca. Aku sendiri tidak dapat berkata apa – apa. Otakku sedang berhenti beraktifitas. Dia seperti aliran air yang terhambat oleh batu besar, sehingga tidak dapat mengalir dengan lancar.

“Maksudku mempertemukan kalian adalah untuk mempersatukan kalian berdua. Aku tahu kalau Gama tidak pernah sekalipun mencintaiku, walaupun hanya dalam sedetik. Dan akupun tahu kalau cintanya hanya untuk seorang Widya. Aku ingin mengakhiri semua masa – masa yang tidak mengenakkan  ini,” lanjut Ratih dengan mata yang masih tetap berkaca – kaca.

Sekarang dia menatap Gama lekat – lekat.

“Aku benar – benar minta maaf kepada kalian berdua, walaupun mungkin kalian akan sulit untuk memaafkan aku. Gama, aku minta kamu ceraikan aku sekarang dan menikahlah dengan Widya.”

Setelah mengatakan hal itu, Widya beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju pintu keluar.

Aku dan Gama saling memandang. Dia menghampiriku dan kemudian memelukku erat.