Cinta Stadium 4

“Ciee… enak neh yang lagi deket sama asdos!” canda Meira saat bertemu Chika teman se jurusannya.

“Biasa aja kali!” jawab Chika sambil tersenyum –senyum.

“Kasih tahu  rahasianya dong!” pinta Meira memelas.

“Kenapa? Kamu mau menggaet Pak Alex?”

“Pingin sih, tapi nggak mungkinlah, dia siapa aku siapa. Tahu dirilah aku!.”

“Kenapa nggak? Aku kasih tahu ya, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Termasuk aku  ini, mana pernah ada yang nyangka seorang Chika bisa jadian sam a asdos tercakep di kampus. Sedang aku, kamu tahu sendirilah, fisik standart, otak pas – pasan, bakat nggak ada, prestasi apa lagi, nggak ada yang bisa dibanggain dari  aku. Tapi buktinya Mas Leo kepincut kan sama  aku!”

“Ya… itu sih namanya hoki!”

“Bener. Dan bisa aja kan hoki itu sebentar lagi nempel sama kamu.”

“Mungkin …”

“Kamu harus yakin! Berjuang dong demi cinta kamu. Deketin Pak Alex, buat dia tertarik sama  kamu. Banyak cara menuju Roma, jadi banyak cara juga untuk mendekatkan diri sama Pak Alex. Aku dukung kamu 100%, kalau perlu 1000% malah.”

“Thanks deh  dukungannya.”

Memang sejak hari pertama kuliah Meira menaruh hati pada Pak Alex, dosen Manajemen Keuangannya. Eh…. Jangan salah! Dosen  ini nggak seperti dosen – dosen yang biasanya,nggak setua dosen – dosen pada umumnya. Dia baru lulus satu tahun lalu, karena prestasi – prestasinya yang gemilang, dia diangkat jadi dosen dalam  waktu singkat. Bukan hanya pintar, Pak Alex benar – benar membuat orang yang melihatnya enggan untuk berpaling, apalagi Meira. Tampangnya itu lho, ganteng banget. Asal atu aja, Meira sudah jatuh hati pada pandangan pertama.

Awalnya Meira merasa bahwa ini adalah perasaan sesaat, perasaan kagum pada tampang cakepnya Pak Alex. Tapi lama –lama Meira sadar bahawa ini bukan hanya  rasa kagum biasa. Dia merasa dia telah jatuh cinta, ya… itulah kesimpulan yang telah ia tarik dari semua yang ia rasakan selama ini sama Pak Alex.

Pak Alex memang penuh pesona. Banyak juga yang tertarik padanya, yang pastinya para mahasiswi dong ya. Nggak sedikit juga yang mencuri – curi foto Pak Alex saat dia ngajar. Waduh! Tapi jeniusnya, nggak ada seorangpun yang pernah ketahuan. Mahasiswinya yang pintar apa Pak Alexnya yang nggak peka  lingkungan ya? Hal ini pun berlaku untuk Meira. Sampai – sampai dia punya folder khusus di file fotonya dimana folder itu berisi ratusan foto Pak Alex dengan berbagi pose yang diambilnya secara diam – diam. Bukan hanya foto orangnya, foto mobil sampai foto bolpointya pun tersimpan dalam  file itu. Pokoknya semua tentang Pak Alex yang bisa diabadikanlah. Apa nggak parah tuh! Kata Meira sih wajar – wajar aja  untuk ukuran orang yang sedang jatuh cinta.

Suatu hari Meira sengaja mencetak foto Pak Alex dan menempelkannya di kamar. Dan di hari yang sama, teman – teman  Meira datang ke rumahnya. Waktu  itu Meira lagi di kamar mandi, jadi mamanya mempersilahkan teman – temannya untuk langsung masuk aja ke kamar Meira, walaupun tanpa ijin Meira.  Mau  nggak mau, teman – teman Meira tahu apa yang ditempelnya di dalam kamar.

“Gila loe Mei, foto siapa nih?” Mita berkomentar saat Meira keluar dari kamar mandi.

“Hah..! Ngapain kalian disini?” Tanya Meira kaget.

“Kok ngapain, kita kan ada janji buat ngerjain tugas bareng, kamu  lupa?” jawab Lena.

Maksud aku, ngapain kalian masuk kamar aku, bukannya nungu di ruang tamu?”

“Kenapa?” tanya Chika mencibir.

“Udahlah Mei, kita kan temen, nggak usah malu lagi kalau kamu ketahuan nempelin foto Pak Alex disini,” Chika berkata sambil merangkul Meira.

“Emang menurut kalian apa ini udah keterlaluan?” Tanya Meira.

“Nggak sih sebenarnya, tapi aku khawatir nih Mei, jangan – jangan penyakit mu udah  mencapai stadium 4.”

“Penyakit apaan maksudmu Chik?” Tanya Meira sok polos.

“Ya penyakit jatuh cintamu itu!”

“Kamu mending periksa deh ke dokter cinta. Udah parah nih!”, celetuk Mita

“Ya mau gimana lagi, memang kenyataanya aku suka sama Pak Alex!”  kata Meira sambil memonyongkan bibirnya.

“Sabar dong…., just kidding!”, Mita merasa bersalah.

“Aku kan  udah bilang sama  kamu Mei, kamu harus menunjukkan rasa cinta kamu  itu sama Pak Alex,” saran Chika.

“Bener  tuh  Mei,” yang lain membenarkan.

“Caranya gimana?”

“Kamu sapa dia, kamu tunjukin kalau kamu perhatian sama dia.Terus ajak ngobrol, PDKT gitulah istilahnya”.

“Masalahnya kalau aku deket – deket sama Pak Alex, rasanya mulutku tuh nggak bisa kebuka. Jadi bakal sulit banget kalau harus nyapa atau ngobrol sama dia, kayaknya ada sesuatu gitu yang membungkam  mulutku saat ketemu langsung sama dia.”

“Ah… kamu  mendramatisir !”

“Beneran, saat aku  lihat dia, dari jauh aja, jantungku udah nggak karuan detaknya. Saat berpapasan terus mencium bau parfumnya, uh… rasanya melayang… “ cerita Meira sambil menerawang.

“Wah … bener – bener ini, sudah jatuh cinta stadium 4!”

“Lagian aku juga bingung, kenapa aku harus jatuh cinta sama Pak Alex, kita kan benar – benar berbeda, dilihat dari segi manapun. Akan sulit banget buat bisa bersatu kayak sepasang kekasih.”

“Kamu harus bersyukur kali Mei udah diberi perasaan cinta sama  lawan jenis, dari pada kamu jatuh cintanya sam kita – kita! Wah berabe…!”

“Ih…najis!”

Meira sadar kalau perasaannya nggak akan pernah terbalaskan. Meira sebenarnya nggak ngebet – ngebet banget pingin jadi pacarnya Pak Alex. Melihat si pujaan hati dari jauh aja dia udah seneng. Lagian selama ini tuh nggak ada tanda – tanda kalau Pak Alex tertarik padanya. Jangankan tertarik, tahu nama Meirapun rasanya nggak. Kalau dipikir – pikir memang nggak ada satu hal pun yang membuat mereka bisa bersama – sama.

Beberapa hari yang lalu, Meira dapat info dari Chika tentang tanggal lahir Pak Alex. Ternyata Pak Alex itu lahir tanggal 15 Januari. Sebagai sahabat yang baik, Chika selalu member itahu Meira segala yang ia ketahui tentang Pak Alex dari Mas Leo. Kebetulan hubungan Pak Alex sama  Mas Leo bisa dibilang akrab. Mereka sering pulang bareng, soalnya   kos- kosan Pak Alex dekat dengan kos – kosan Mas Leo.

Sekarang tanggal14 januari, dan besok adalah hari ulang tahunnya Pak Alex. Meira bingung, apa yang bisa ia kasih pada ulang tahun pujaan hatinya. Kata teman – temannya ini adalah kesempatan emas untuk mendapat perhatian dari Pak Alex, atau paling nggak Pak Alex tahulah kalau Meira menaruh hati padanya. Mereka menyarankan  agar Meira memberikan hadiah spesial.

“Ok, aku tahu hadiahnya harus spesial, tapi apa?”

“Aku juga nggak tahu,” jawab Chika yang ikutan bingung.

“Kamu pas Mas Leo ultah memangnya  ngasih apa?” Tanya Meira.

“Mas Leo ultahnya November, jadi masih jauh, dulu kita jadiannya kan awal Desember.”

“Kira – kira Pak Alex sukanya sam apa ya?”

“Manakutahu!”

“Ya aku tahu kamu nggak tahu, tapi kira – kira barang yang disuka sam acowok itu apa ya?”

“Cowok memang nggak kayak cewek yang punya banyak barang – barang, kaum cowok rata – rata nggak neko – neko, jadi barang – barangnya cuma dikit”

“O… aku tahu, gimana kalau kamu tanya aja sama Mas Leo, kira – kira Pak Alex tuh sukanya sama apa, atau paling nggak apa yang dia inginkan dalam waktu dekat ini yang belum kesampaian!”saran Meira.

“Wah… masalahnya Mas Leo lagi keluar kota selama dua hari ini, dia ada seminar apa gitu, aku  nggak bisa tanya langsung ke dia, kalu nungguin dia datang, nggak bakal keburu. “

“Sms atau telpon  kan  bisa”.

“Nggak bisa, dia udah bilang kalau selama  seminar dia nggak boleh  nyalain hp, jadi kiat nggak bisa komunikasi. Sorry banget!”

“Ya sudahlah nggak papa, terus enaknya dikasih apaan ya?”

Meira tahu kalau temannya itu nggak bakal kasih ide a pa – pa, karena Chika emang nggak punya pengalaman ngasih hadiah ke cowok. Dia mau tanya kakaknya yang di Bandung, tapi dia pikir, apa nggak malu – maluin nanya hadiah buat cowok inceran ke  kakaknya, di Bandung lagi, apa nggak kejauhan. Ogah ah… pikir Meira, malu kali.

Tanpa pikir panjang Meira pun berangkat seorang diri ke mall. Dia keliling – keliling, mencari kira – kira hadiah apa yang cocok untuk PakAlex. Sampailah  ia pada sebuah butik yang menjual pakaian kantor untuk laki – laki. Meira memutuskan untuk membelikan Pak Alex kemeja cowok dan dasinya. Seperti yang dia lihat selama ini, Pak Alex lebih banyak memakai kemeja dari pada T-shirt kayak cowok – cowok kebanyakan. Dengan mengandalkan kepiawaiannya dalam memilih, Meira pun menemukan setelan kemeja dan dasi yang cocok untuk Pak Alex. Dia memilih kemeja garis – garis merah marun dan dasi yang sesuai.

Tanpa terasa sudah hampir 5 jam Meira keliling – keliling mall. Dia merasa lapar, dan akhirnya memutuskan untuk makan di salah satu café yang tidak jauh dari butik tempat ia membeli kemeja. Sebenarnya Meira paling malas untuk makan di luar sendiri, tapi apa boleh buat, saat itu cacing – cacing di perut Meira sudah meraung – raung.

Sesampai di cafe, dia melihat sekeliling, mencari tempat duduk yang kosong. Setelah itu dia memanggil pelayan untuk memesan makanan. Sambil menunggu  pesanannya datang, Meira membuka tas dari butik tadi, dia melihat lagi apakah kemeja yang baru  ia beli itu cocok untuk Pak Alex. Namun ketika  ia membuka tas, eh …. matanya tertuju  pada seorang cowok yang sedang makan di café yang sama, sekilas terlihat bahwa cowok itu makan bersama teman – temannya. “Oh my God!” seru Meira dalam hati. Bukankah cowok yang dia lihat  itu adalah Pak Alex? Saat Meira memandang ke arahnya, Pak Alex juga menatapnya. Oh no! Spontan, jantung Meira berdetak lebih kencang. Meira menatap tanpa berkedip, namun Pak Alex biasa aja, dia kemudian berpaling dan ngobrol bareng teman – temannya. “Sialnya!” pekik  Meira dalam  hati. Padahal Meira pingin menyapa Pak Alex, tapi apa daya, sepertinya Pak Alex nggak sadar dengan kedatangannya. Meira hanya menelan ludah.

“Ya sudahlah,” pikir Meira.

“Aku kan udah menemukan hadiah yang cocok untuk Pak Alex!” katanya menghibur diri.

Pelayan sudah datang mengantarkan makanannya. Saat  makan, Meira mendengar pembicaraan cewek – cewek yang berada di sebelah tempatnya makan.

“Ya ampun, cakep banget sih tuh cowok!” kata seorang yang berambut pirang pada kedua temannya.

“Iya, sumpah cakep banget!”, kata yang satunya menanggapi.

“Kalau aja nih aku punya cowok kayak dia, yakin deh aku nggak bakalan ngelirik cowok lain!”, teman yang lainnya ikutan berkomentar.

Dalam hati aku mengiyakan apa yang mereka katakan. Rasanya aku pingin ikutan berkomentar dalam forum mereka.

Meira ingin bilang, “Bukan hanya ganteng, dia juga smart, pokoknya dia adalah cowok idaman semua ceweklah, termasuk aku!”

“Bener – bener nggak salah aku  jatuh hati padanya,” kata Meira dalam hati.

Setelah puas menghabiskan makanannya, Meira  langsung bergegas pulang. Dia pingin segera besok, dia pingin segera memberi hadiah istimewa itu pada pujaan hatinya.

Sesampai di rumah, Meira membungkus kemeja itu dengan kertas kado bergambar hati. Dia juga menyelipkan kartu ucapan di dalamnya. Kartu  itu bertuliskan “Pak Alex, kemeja dan dasi ini untuk Bapak. Maaf kalau saya telah lancang memberi Bapak hadiah  ini. Saya hanya ingin mengucapkan Happy Birthday buat Bapak, semoga kedepannya apa yang Bapak inginkan tercapai. Jujur, saya menaruh hati saat pertama kali bertemu Bapak.  Tapi saya tidak mengharapkan balasan dari Bapak. Dengan melihat senyuman Bapak setiap hari saya sudah bahagia. Saya juga sadar, Bapak dan saya sangatlah jauh berbeda. Saya  hanya ingin Bapak mengetahui apa yang saya rasakan. Cuma itu. Terima kasih karena Bapak telah membuat  saya bisa merasakan rasanya jatuh cinta, walaupun orang yang saya cintai tidak tepat untuk saya. Sekali lagi  maafkan kesalahan saya yang telah dengan diam  – diam mengagumi Bapak. Saya sangat berharap Bapak mau memakai kemeja ini saat Bapak mengajar besok. Happy Birthday Pak Alex”.

Meira menulis kartu ucapan sepanjang itu dangan sepenuh hati, tanpa terasa air matanya jatuh membasahi kartu  itu. Meira tak menulis identitasnya disana. Dia tidak mau Pak Alex tahu siapa dia.

Keesokan harinya, Meira datang ke kampus pagi – pagi sekali. Secara menyelinap ia masuk ke ruang dosen, ia letakkan kado untuk Pak Alex di mejanya. Sebelumnya, Meira mencium kado itu, dan betapa kagetnya  ia saat  menemukan sebingkai foto di meja itu. Dia tahu foto siapa itu. Ya… itu memang foto Pak Alex, tapi Pak Alex tidak sendiri, di sebelahnya ada seorang cewek. Meira tahu sipa cewek itu. Dia adalah kakak Meira yang tinggal di Bandung. Meira dan kakaknya memang tidak tinggal serumah, karena ayah dan ibu mereka bercerai, Meira ikut ibunya yang menikah lagi dan kakaknya ikut ayahnya yang juga menikah lagi. Belakangan ini ia dapat kabar dari ayahnya, bahwa kakaknya itu sudah bertunangan dengan seorang dosen. Meira memang tidak pernah ketemu sama tunangan kakaknya itu, karena saat pertunangan Meira sedang berada di luar negeri bersama ayah barunya yang orang asing itu. Sekarang  tahulah ia siapa sebenarnya tunangan kakaknya, ya dia adalah Pak Alex!

Hati hancur sudah pasti. Menagis adalah hal yang wajar bagi Meira saat ini. Tapi Meira lega, karena cintanya pada Pak Alex nggak begitu dalam, sehingga dia tidak membutuhkan waktu banyak untuk bisa melupakan Pak Alex. Disisi lain Meira senang, karena kakaknya mendapat orang yang tepat.