Latest Entries »

Di Jakarta sangat sulit memang menemukan tempat yang bernuansa alam yang dapat membuat kita nyaman menikmati hijaunya daun – daun. Jakarta sudah didominasi dengan mall – mall dan tempat belanja yang identik dengan keramaian dan kebisingan. Jangan lupa juga, mall dan tempat -tempat belanja akan dengan cepat menghabiskan uang kita. Itu membuat kita menjadi konsumtif. Bener nggak?? Of course….
Pengalaman waktu itu, aku sama temen – temen kerjaku yang udah jenuh dan bosan dengan kesibukan kita di tempat kerja memutuskan buat menyegarkan pikiran. Bingung banget emang awalnya mau kemana. Melihat pengalaman yang dulu – dulu pas kita semua pada jenug kerja, kita pasti jalan ke mall. Kalau nggak liat konser gratisan, liat – liat baju – baju lucu atau kadang nonton. Udah, begitu – begitu doang. Jenuh juga lama – lama. Udah di kantor jenuh, keluar ke mall dengan situasi yang sama dan buat jenuh juga. Nah, terus kemana kita agar jenuhnya hilang. Repot kan??? Yang kita mau saat menghilangkan jenuh adalah membuat suasana yang ada dalam hai kita benar – benar berubah. Agar nantinya kita bisa kembali kerja dengan keadaan yang fresh. Ide awal buat refreshing adalah pergi ke Bogor atau Bandung.
Tapi kendalanya adalah kita harus punya waktu yang panjang. Kalau cuma sehari mah nggak bakalan bisa. Kita butuh waktu yang lebih. Sedangkan buat kita yang hanya punya libur sehari doang, sangat nggak memungkinkan buat kesana. Akhirnya, kita putusin buat refresh di Jakarta aja. Dan tujuan yang telah kita sepakati adalah “Ragunan”. Temen – temen pasti bingung. “Loe kira gue anak kecil yang mau liat bnatang – binatang?” Nggak ada larangan juga kali buat orang dewasa masuk Ragunan. Jangan dikira disana cuma ada hewan – hewan. Ada taman – tamannya juga, ada danau dan pemandangan hijau yang jarang kita temukan di Jakarta. Disana juga kita bisa menambah pengetahuan tentang nama – nama hewan yang sudah jarang kita temui.
Saat aku kesana sama temen – temen, kalau nggak salah 15 orang lah. kiat rame – rame, bawa kamera, foto disana – disini. Seru juga lho! Tiket masuknya juga murah banget, cuma sekitar Rp 7.000,00 deh kalau nggak salah inget. Tapi pokoknya murah banget deh. Keadaan disana juga nggak ramai banget. Secara areal seluas itu, sebanyak apapun yang dateng ya tetap aja nggak sempit – sempitan kayak di mall atau itc. Cocok deh buat yang mau ngirit dan pingin sesuatu yang hijau – hijau. Apalagi kalau bareng – bareng. Nah, itu tuh rekomendasiku buat temen – temen semua saat kita bingung menghilangkan rasa jenuh dan bosan yang sering mendera kita saat bekerja.
Semoga bermanfaat. Ini aku kasih juga foto – foto saat aku sama temen – temen kesana.

Di rumah aku punya tiga kucing. Nggak tahu mulai kapan ya aku suka banget sama kucing. menurutku sih,kucing itu lucu banget. Tapi yang bikin aku heran kenapa masih ada orang di muka bumi ini yang benci sama kucing. Apalagi kalau sampai ada cowok yang takut sama kucing…..ih, nggak jentel banget. Hehehe…..Sorry kalau ada yang kesindir.
Tau nggak, nama kucingku siapa aja, namanya tuh, MONIQUE, MONCHIL, n OLIVIA…..
Keren keren kan namanya…….. Ya iyalah, kucingku! Hehehe Narsis!
Yang namanya monique itu kucing kesayanganku, tapi sama semuanya sayang juga sih, cuma monique kan yang paling deket sama aku, jadiras sayangku ini lebih. Tahu nggak sih, kadang kadang aku tuh kalau ada masalah curhatnya sama monique. Emang sih, monique nggak bakal kasih saran apa apa, tapi itu ngebuat aku seneng, lega sama ngerasa kalau monique bakalan menyimapan semua masalahku yang tak seorangpun boleh tahu.
Makanya, seru kali bisa curhat sama kucing…..
Tapi orang2 banyak yang nggak setuju kali ya? Apa dikira aku nggak waras? Wah….Jangan salah! Aku sehat sehat aja.
Udah ah masalah kucingnya. Kapan2 aku certita lagi deh soal kucingku….
Bye bye

Waktu itu entah kapan udah lupa, aku nonton shownya ADA BAND di MKG 3. Sama teman kerjaku yang juga ngefans sama ADA BAND juga. Kita berangkat sekitar jam 4 sore kalau nggak salah, soalnya ADA BAND bakal main jam 5 sore. Sesampainya di sana, busyet, banyak banget orangnya. Semua pada pakai baju yang bertuliskan “Armada” ( nama fans ADA BAND). Donnie pakai baju cina gitu, brhubung memang temanya mau imlek. Cakep bozz… Tapi sayang drummer additional-nya yang namanya Rere nggak dateng. Mereka nyanyi sekitar 10 lagu. Ini aku punya foto – foto yang aku ambil saat mereka nyanyi. Kok bisa ngambil? Ya iyalah orang aku sama temanku ada di barisan paling depan. Whahaaha….

Widya & Gama

Pagi ini aku diantar ayahku ke terminal. Rencana awal sih aku akan berangkat dari rumah jam 7 pagi, tapi nyatanya ayah mengantarku sekitar jam setengah 9. Bukan apa – apa, aku memang harus menyiapkan sarapan untuk ayah dan adikku dulu. Ibu meninggalkan kami semua saat umur adikku baru 2 bulan. Sungguh ironis memang nasib adikku. Tapi dia termasuk anak yang tegar.

Di lain sisi, aku adalah seorang yang rapuh. Tampak dari luar memang aku terlihat tabah, namun itu adalah trikku agar oarang lain tidak tahu tentang apa yang sebenarnya ada dalam hatiku. Di umurku yang menginjak kepala 3 ini masih belum ada seorang pria yang mendampingiku. Sebenarnya, banyak pria yang datang ke rumah, menemui ayah dan mengatakan keinginannya untuk meminangku. Namun, diantara puluhan pria itu, tak satupun diantara mereka yang menarik hatiku. Entahlah, aku juga bingung. Besar kemungkinan aku masih terbayang – bayang mantan pacarku saat SMA dulu. Dialah pacar pertama dan terakhirku. Bersamanya aku merasa nyaman. Ya… itulah yang kurasakan. Bagiku dia adalah lelaki yang sebenarnya dan dialah yang paling cocok mendampingiku.

Waktu itu dia meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Setelah lulus SMA dia pergi ke Jakarta. Dia pergi tanpa bilang apa – apa padaku. Hubungan kita waktu itu baik – baik saja. Malahan sehari sebelum dia pergi, dia mengatakan kalau pada suatu saat nanti ia akan datang kerumahku dan meminangku. Tapi nyatanya apa, dia meninggalkanku begitu saja. Dengan bodohnya, sampai sekarangpun aku masih percaya tentang semua janji – janjinya. Aku masih mencintainya. Semua hal tentang dialah yang membuatku menolak semua pria yang datang ke rumah.

Suatu hari aku mendapat kabar dari teman dekatku dulu waktu SMA, dia melihat Gama, ya… mantan pacarku itu, di sebuah pusat perbelanjaan di Malang. Dia bilang tahu dimana rumah Gama sekarang. Aku minta menceritakan keadaan Gama sekarang, tapi dia malah menyuruhku untuk datang ke rumahnya dan nanti dia akan menunjukkan dimana rumah Gama. Dia berjanji akan mempertemukanku dengan Gama. Ooo… aku baru ingat kalau keluarganya memang sudah pindah ke Malang beberapa bulan setelah kepergiannya.

Pagi ini aku ke terminal untuk menagih janji temanku itu. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Gama. Atau paling tidak aku tahu bagaimana keadaannya sekarang. Niatnya aku! Ya, itulah yang tak ku tahu, aku selalu bisa melakukan hal yang tidak biasa bila bersangkutan tentang dirinya. Entah magnet apa yang membuatku selalu ingin tahu tentang keadaannya saat ini. Aku adalah tipe wanita yang memegang teguh janji, bagiku perkataan Gama waktu itu adalah janji yang harus aku tagih. Walaupun nanti aku mungkin akan terhalang banyak kendala, seperti misalnya bagaimana kalau ternyata dia sudah menikah atau bahkan punya anak. Masa bodoh. Aku hanya ingin memastikan semuanya.

Di terminal ayah sudah berpesan kepadaku.

“Widya… ayah memberimu ijin untuk ke Malang mengejar cintamu yang hilang dengan satu syarat, sebulan setelah ini kau harus menikah, entah dengan siapa, dengan cinta yang kau kejar sekarang atau dengan salah satu pria yang datang ke rumah itu.”

“Ya ayah… percayalah aku akan menepati janjiku itu,” kataku dengan sepenuh hati.

“Ayah percaya. Ayah cuma mengingtkan kau. Lagipula umurmu ini sudah sangat cukup untuk menikah.”

Dalam hati aku membenarkan ucapan ayah, umurku memang sudah tidak mudah lagi. Aku juga sudah berjanji pada diriku sendiri, apapun yang terjadi nanti dengan hubunganku dan Gama aku akan menuruti apa yang dikatakan ayah.

Perjalananku ke Malang cukup lancar. Sekitar 4 jam kemudian, aku sampai di terminal Arjosari. Temanku sudah bilang tentang rute menuju rumahnya kepadaku. Akupun mengikuti petunjuk yang telah ia berikan melalui telpon waktu itu. Tak berapa lama kemudian aku diturunkan oleh angkutan yang membawaku di depan sebuah gang yang lumayan lebar untuk sebuah gang.  Di atas gapura gang tersebut bertuliskan “Melati Biru”. Ya memang benar, inilah alamat yang diberikan temanku kepadaku. Dia bilang kalau dia tinggal di jalan Adi Sucipto gang Melati Biru no. 45. Akupun menyusuri gang itu, dari rumah ke rumah aku perhatikan satu –per satu. Aku lihat dengan jelas tulisan nomor di masing – masing rumah. Nah, akhirnya aku temukan rumah dengan nomor 45. Aku pencet bel di sebelah pagar rumah tersebut. Keluarlah seorang wanita seusiaku berpakaian celana kain dan kemeja berenda – renda warna biru. Ya ampun, aku benar – benar nggak nyangka itu adalah teman SMAku dulu. Ratih namanya.

“Hai Wid, udah lama kita nggak jumpa ya?” katanya menyambut kehadiranku.

“Iya…,”  jawabku sekenanya.

“Apa kabarmu sekarang?”, tanya dia sambil membimbingku masuk ke dalam rumahnya.

“Ya, seperti yang kau lihat inilah Tih.”

“Ayo masuk,” Ratih mempersilahkan aku masuk.

“Suamimu mana Tih?” aku menanyakan suaminya karena memang aku belum pernah sekalipun melihat suaminya. Waktu mereka menikah memang aku diundang, tapi acara pernikahannya di Jakarta, jadi aku tidak bisa datang.

“Masih di kantor, nanti sore – sore juga sudah pulang.”

“Anakmu? Sudah berapa anakmu?”

“Belum Wid, Tuhan masih belum memberiku kepercayaan untuk mendapatkan anak,” jawab Ratih dengan muka sedih. Aku merasa menyesal sudah menanyakan itu.

“Maaf ya Tih, aku nggak bermaksud….,”

“Nggak papa kok,” jawabnya dengan muka tetap murung.

“Kamu nggak istirahat dulu Wid? Kan capek di perjalanan tadi. Sini aku kasih tahu dimana kamarmu,” Ratih menunjukkan kamar untuk aku beristirahat.

Memang aku capek sekali. Belum pernah aku melakukan perjalanan sepanjang ini. Paling banter aku pergi ke pusat perbelanjaan di kotaku. Aku nggak pernah mau jauh – jauh dari ayah dan adikku. Jadi aku memilih bekerja di sebuah perusahaan asuransi kecil di kotaku yang hanya berjarak sekitar 3 km dari rumahku.

Akupun tertidur lelap di kamar itu.

Aku terbangun setelah tidur sekitar 4 jam, hitung – hitung mengganti waktuku yang tadi aku gunakan untuk menempuh perjalanan ke sini. Badanku sedikit nyeri, aku bermaksud mandi air hangat sore ini. Akupun mengutarakan keinginanku pada Ratih. Dalam hati aku merasa tak enak, tamu kok mintanya macem – macem, ya… daripada aku nanti sakit sampai rumah.

Setelah mandi dan berganti pakaian aku langsung menemui Ratih di ruang keluarga. Ruangan itu besar, ada sofa warna merah marun yang terlihat jarang diduduki orang, ada televisi layar datar 21’, ada meja kaca yang di atasnya sudah terdapat makanan kecil dan aku yakin makanan itu ia suguhkan untukku. Ratih duduk di sofa itu sambil memegang remote. Sepertinya dia sedang gundah, terlihat dari cara dia menonton televisi, aku bisa melihat kalau pikiran sekarang telah melayang jauh entah kemana. Aku duduk di sebelahnya, dia tidak merespon kehadiranku, dugaanku sih, dia sedang asyik dengan pikirannya sendiri sehingga ia tidak menyadari hadirnya aku di sebelahnya.

“Hei Tih, lagi mikirin apa?” kataku membuyarkan semua yang telah dipikirkan Ratih.

Dia kaget dan hampir menjatuhkan remote dari tangannya. Aku merasa tidak enak hati.

“Nggak kok Wid… lagi ngelamun aja,” jawabnya.

“Sudah malam gini suamimu belum juga datang?”, tanyaku iseng. Habisnya aku masih belum melihat suaminya dari aku datang tadi.

“Masih belum, mungkin sebentar lagi.”

“Masih suka nonton film korea Tih?” tanyaku kemudian karena tiba – tiba aku ingat kalau Ratih pas SMA dulu suka sekali sama film – film korea. Sampai dulu pernah ia ijin pulang lebih dulu dari sekolah dengan alasan pusing hanya karena ia mau nonton film yang ia sukai. Dan hal seperti itu tidak hanya dilakukannya sekali.

“Masih, kenapa? Kau masih ingat ya masa – masa SMA dulu saat aku lebih memilih nonton film korea kesukaanku daripada ikut ulangan kimia?”, katanya sambil menerawang.

“Iya, sifatmu dari dulu memang gitu, kalau udah suka sama itu, ya harus didapatkan.”

“Ha ha ha…”, tawa Ratih sedikit dipaksakan.

Di sela – sela perbincangan kita, tiba – tiba aku mendengar ada langkah kaki yang mendekati kita.

“Tih.. Ratih… dimana kau?”.

Suara itu berasal dari luar ruang keluarga. Suaranya seperti suara laki –laki, tebakanku sih dia adalah suaminya Ratih. Kemudian Ratih keluar. Lalu aku mendengar suara kaki menuju lantai dua. Aku heran, kenapa Ratih nggak memperkenalkan suaminya kepadaku dulu sebelum ia naik ke atas. Atau mungkin besok pagi saja, suaminya kan capek. Tapi sepertinya aku merasa nggak sopan aja, masak ada teman istrinya ia nggak menemui. Apalagi ia kan nggak pernah bertemu denganku. Maklumlah, suami Ratih kan orang jakarta. Tahulah aku tipe – tipe orang Jakarta yang rasa sosialnya sangat tipis.

Aku menunggu Ratih keluar dari kamarnya sambil menikmati lawakan yang aku lihat di layar televisi. Dua puluh menit, tiga puluh menit, empat puluh menit, sampai satu jam aku menunggu Ratih namun ia tak kunjung keluar. Kenapa ya? Mungkin ia sedang melayani suaminya. Aku baru sadar kalau tugas istri adalah melayani suami, dan suami adalah prioritas utama, kalau teman sepertiku mah prioritas terakhir.

Bosan nonton televisi, akupun melangkahkan kakiku. Awalnya aku mau kembali ke kamarku, tapi entah kenapa aku tertarik untuk menaiki tangga menuju lantai dua. Sejak siang tadi aku masih belum ke atas. Maklumlah, kamar tamu letaknya kan di lantai dasar. Di ujung tangga aku menemukan foto besar, dari jauh terlihat seperti foto pengantin. Aku penasaran, dan akupun terus melangkahkan kakiku mendekati foto itu. Benar itu foto pernikahan Ratih. Aku perhatikan foto itu di keremangan, sepertinya aku pernah melihat lelaki yang bersanding di foto bersama Ratih itu. Ya ampun! Itu kan foto Gama!

Aku tidak dapat berteriak. Aku tidak dapat memaki. Aku hanya bisa menangis. Terisak sambil terus menatap foto  yang terpajang rapi di dinding itu. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, aku tidak pernah menyangka sebelumnya, dan akupun tidak menginginkan ini sebelumnya. Akupun tak tahu apa maksud dari foto ini. Pikiranku kosong.

Di kamar aku terus memikirkan apa yang ku lihat barusan. Apa aku hanya bermimpi, karena aku terlalu mengharapkan Gama. Tapi rasanya apa yang kulihat tadi adalah sesuatu yang nyata. Lalu? Siapa yang dapat menjelaskan tentang semua ini kepadaku. Tangisku tak dapat berhenti. Tak ada suara sak tangis memang, tapi air mataku terus menetes.

Pagi ini sangat cerah, tapi hatiku benar – benar amburadul. Aku bermaksud mencari tahu tentang kebenaran dan maksud dari foto yang kulihat tadi malam. Aku beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar itu. Setelah mandi aku keluar kamar. Aku menuju ruang makan. O… aku melihat sosok Gama yang sedang mengolesi rotinya dengan mentega. Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku merasa seperti saat pertama aku berjumpa dengannya bertahun – tahun yang lalu. Kemudian Ratih muncul di belakangku. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit ditebak. Saat itulah Gama menoleh ke arahku. Dia kaget melihatku berdiri disana. Ia menatapku dan Ratih bergantian.

Ratih membimbingku duduk di salah satu kursi di meja makan itu.

“Kalian pasti  bingung dan tidak menyangka akan bertemu disini,” kata Ratih datar.

“Sekarang aku akan menceritakan semuanya,” lanjut Ratih.

Aku dan Gama hanya diam dalam ketidakpercayaaan kami masing – masing.

“Aku memang yang mengatur kalian agar bertemu. Sebelumnya aku ingin  minta maaf padamu Wid, aku telah menikah dengan Gama. Dari SMA dulu aku memang telah menyukai Gama. Jauh sebelum kalian berpacaran. Kamu pasti tahu sifatku Wid, aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan. Dan keinginanku adalah menikah dengan Gama. Dengan berbagai cara, aku sengaja memutuskan komunikasi anatara kalian berdua. Aku gunakan cara – cara licik agar Gama mau menikah denganku. Tapi sekarang aku sadar, walau Gama menikah denganku, tapi hal itu tidak membuatku bahagia, malah membuatku tersiksa. Aku merasa bersalah padamu dan pada Gama.”

Ratih mengatakan hal itu sambil berkaca – kaca. Aku sendiri tidak dapat berkata apa – apa. Otakku sedang berhenti beraktifitas. Dia seperti aliran air yang terhambat oleh batu besar, sehingga tidak dapat mengalir dengan lancar.

“Maksudku mempertemukan kalian adalah untuk mempersatukan kalian berdua. Aku tahu kalau Gama tidak pernah sekalipun mencintaiku, walaupun hanya dalam sedetik. Dan akupun tahu kalau cintanya hanya untuk seorang Widya. Aku ingin mengakhiri semua masa – masa yang tidak mengenakkan  ini,” lanjut Ratih dengan mata yang masih tetap berkaca – kaca.

Sekarang dia menatap Gama lekat – lekat.

“Aku benar – benar minta maaf kepada kalian berdua, walaupun mungkin kalian akan sulit untuk memaafkan aku. Gama, aku minta kamu ceraikan aku sekarang dan menikahlah dengan Widya.”

Setelah mengatakan hal itu, Widya beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju pintu keluar.

Aku dan Gama saling memandang. Dia menghampiriku dan kemudian memelukku erat.

cerpen_Q : cinta stadium 4

Cinta Stadium 4

“Ciee… enak neh yang lagi deket sama asdos!” canda Meira saat bertemu Chika teman se jurusannya.

“Biasa aja kali!” jawab Chika sambil tersenyum –senyum.

“Kasih tahu  rahasianya dong!” pinta Meira memelas.

“Kenapa? Kamu mau menggaet Pak Alex?”

“Pingin sih, tapi nggak mungkinlah, dia siapa aku siapa. Tahu dirilah aku!.”

“Kenapa nggak? Aku kasih tahu ya, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Termasuk aku  ini, mana pernah ada yang nyangka seorang Chika bisa jadian sam a asdos tercakep di kampus. Sedang aku, kamu tahu sendirilah, fisik standart, otak pas – pasan, bakat nggak ada, prestasi apa lagi, nggak ada yang bisa dibanggain dari  aku. Tapi buktinya Mas Leo kepincut kan sama  aku!”

“Ya… itu sih namanya hoki!”

“Bener. Dan bisa aja kan hoki itu sebentar lagi nempel sama kamu.”

“Mungkin …”

“Kamu harus yakin! Berjuang dong demi cinta kamu. Deketin Pak Alex, buat dia tertarik sama  kamu. Banyak cara menuju Roma, jadi banyak cara juga untuk mendekatkan diri sama Pak Alex. Aku dukung kamu 100%, kalau perlu 1000% malah.”

“Thanks deh  dukungannya.”

Memang sejak hari pertama kuliah Meira menaruh hati pada Pak Alex, dosen Manajemen Keuangannya. Eh…. Jangan salah! Dosen  ini nggak seperti dosen – dosen yang biasanya,nggak setua dosen – dosen pada umumnya. Dia baru lulus satu tahun lalu, karena prestasi – prestasinya yang gemilang, dia diangkat jadi dosen dalam  waktu singkat. Bukan hanya pintar, Pak Alex benar – benar membuat orang yang melihatnya enggan untuk berpaling, apalagi Meira. Tampangnya itu lho, ganteng banget. Asal atu aja, Meira sudah jatuh hati pada pandangan pertama.

Awalnya Meira merasa bahwa ini adalah perasaan sesaat, perasaan kagum pada tampang cakepnya Pak Alex. Tapi lama –lama Meira sadar bahawa ini bukan hanya  rasa kagum biasa. Dia merasa dia telah jatuh cinta, ya… itulah kesimpulan yang telah ia tarik dari semua yang ia rasakan selama ini sama Pak Alex.

Pak Alex memang penuh pesona. Banyak juga yang tertarik padanya, yang pastinya para mahasiswi dong ya. Nggak sedikit juga yang mencuri – curi foto Pak Alex saat dia ngajar. Waduh! Tapi jeniusnya, nggak ada seorangpun yang pernah ketahuan. Mahasiswinya yang pintar apa Pak Alexnya yang nggak peka  lingkungan ya? Hal ini pun berlaku untuk Meira. Sampai – sampai dia punya folder khusus di file fotonya dimana folder itu berisi ratusan foto Pak Alex dengan berbagi pose yang diambilnya secara diam – diam. Bukan hanya foto orangnya, foto mobil sampai foto bolpointya pun tersimpan dalam  file itu. Pokoknya semua tentang Pak Alex yang bisa diabadikanlah. Apa nggak parah tuh! Kata Meira sih wajar – wajar aja  untuk ukuran orang yang sedang jatuh cinta.

Suatu hari Meira sengaja mencetak foto Pak Alex dan menempelkannya di kamar. Dan di hari yang sama, teman – teman  Meira datang ke rumahnya. Waktu  itu Meira lagi di kamar mandi, jadi mamanya mempersilahkan teman – temannya untuk langsung masuk aja ke kamar Meira, walaupun tanpa ijin Meira.  Mau  nggak mau, teman – teman Meira tahu apa yang ditempelnya di dalam kamar.

“Gila loe Mei, foto siapa nih?” Mita berkomentar saat Meira keluar dari kamar mandi.

“Hah..! Ngapain kalian disini?” Tanya Meira kaget.

“Kok ngapain, kita kan ada janji buat ngerjain tugas bareng, kamu  lupa?” jawab Lena.

Maksud aku, ngapain kalian masuk kamar aku, bukannya nungu di ruang tamu?”

“Kenapa?” tanya Chika mencibir.

“Udahlah Mei, kita kan temen, nggak usah malu lagi kalau kamu ketahuan nempelin foto Pak Alex disini,” Chika berkata sambil merangkul Meira.

“Emang menurut kalian apa ini udah keterlaluan?” Tanya Meira.

“Nggak sih sebenarnya, tapi aku khawatir nih Mei, jangan – jangan penyakit mu udah  mencapai stadium 4.”

“Penyakit apaan maksudmu Chik?” Tanya Meira sok polos.

“Ya penyakit jatuh cintamu itu!”

“Kamu mending periksa deh ke dokter cinta. Udah parah nih!”, celetuk Mita

“Ya mau gimana lagi, memang kenyataanya aku suka sama Pak Alex!”  kata Meira sambil memonyongkan bibirnya.

“Sabar dong…., just kidding!”, Mita merasa bersalah.

“Aku kan  udah bilang sama  kamu Mei, kamu harus menunjukkan rasa cinta kamu  itu sama Pak Alex,” saran Chika.

“Bener  tuh  Mei,” yang lain membenarkan.

“Caranya gimana?”

“Kamu sapa dia, kamu tunjukin kalau kamu perhatian sama dia.Terus ajak ngobrol, PDKT gitulah istilahnya”.

“Masalahnya kalau aku deket – deket sama Pak Alex, rasanya mulutku tuh nggak bisa kebuka. Jadi bakal sulit banget kalau harus nyapa atau ngobrol sama dia, kayaknya ada sesuatu gitu yang membungkam  mulutku saat ketemu langsung sama dia.”

“Ah… kamu  mendramatisir !”

“Beneran, saat aku  lihat dia, dari jauh aja, jantungku udah nggak karuan detaknya. Saat berpapasan terus mencium bau parfumnya, uh… rasanya melayang… “ cerita Meira sambil menerawang.

“Wah … bener – bener ini, sudah jatuh cinta stadium 4!”

“Lagian aku juga bingung, kenapa aku harus jatuh cinta sama Pak Alex, kita kan benar – benar berbeda, dilihat dari segi manapun. Akan sulit banget buat bisa bersatu kayak sepasang kekasih.”

“Kamu harus bersyukur kali Mei udah diberi perasaan cinta sama  lawan jenis, dari pada kamu jatuh cintanya sam kita – kita! Wah berabe…!”

“Ih…najis!”

Meira sadar kalau perasaannya nggak akan pernah terbalaskan. Meira sebenarnya nggak ngebet – ngebet banget pingin jadi pacarnya Pak Alex. Melihat si pujaan hati dari jauh aja dia udah seneng. Lagian selama ini tuh nggak ada tanda – tanda kalau Pak Alex tertarik padanya. Jangankan tertarik, tahu nama Meirapun rasanya nggak. Kalau dipikir – pikir memang nggak ada satu hal pun yang membuat mereka bisa bersama – sama.

Beberapa hari yang lalu, Meira dapat info dari Chika tentang tanggal lahir Pak Alex. Ternyata Pak Alex itu lahir tanggal 15 Januari. Sebagai sahabat yang baik, Chika selalu member itahu Meira segala yang ia ketahui tentang Pak Alex dari Mas Leo. Kebetulan hubungan Pak Alex sama  Mas Leo bisa dibilang akrab. Mereka sering pulang bareng, soalnya   kos- kosan Pak Alex dekat dengan kos – kosan Mas Leo.

Sekarang tanggal14 januari, dan besok adalah hari ulang tahunnya Pak Alex. Meira bingung, apa yang bisa ia kasih pada ulang tahun pujaan hatinya. Kata teman – temannya ini adalah kesempatan emas untuk mendapat perhatian dari Pak Alex, atau paling nggak Pak Alex tahulah kalau Meira menaruh hati padanya. Mereka menyarankan  agar Meira memberikan hadiah spesial.

“Ok, aku tahu hadiahnya harus spesial, tapi apa?”

“Aku juga nggak tahu,” jawab Chika yang ikutan bingung.

“Kamu pas Mas Leo ultah memangnya  ngasih apa?” Tanya Meira.

“Mas Leo ultahnya November, jadi masih jauh, dulu kita jadiannya kan awal Desember.”

“Kira – kira Pak Alex sukanya sam apa ya?”

“Manakutahu!”

“Ya aku tahu kamu nggak tahu, tapi kira – kira barang yang disuka sam acowok itu apa ya?”

“Cowok memang nggak kayak cewek yang punya banyak barang – barang, kaum cowok rata – rata nggak neko – neko, jadi barang – barangnya cuma dikit”

“O… aku tahu, gimana kalau kamu tanya aja sama Mas Leo, kira – kira Pak Alex tuh sukanya sama apa, atau paling nggak apa yang dia inginkan dalam waktu dekat ini yang belum kesampaian!”saran Meira.

“Wah… masalahnya Mas Leo lagi keluar kota selama dua hari ini, dia ada seminar apa gitu, aku  nggak bisa tanya langsung ke dia, kalu nungguin dia datang, nggak bakal keburu. “

“Sms atau telpon  kan  bisa”.

“Nggak bisa, dia udah bilang kalau selama  seminar dia nggak boleh  nyalain hp, jadi kiat nggak bisa komunikasi. Sorry banget!”

“Ya sudahlah nggak papa, terus enaknya dikasih apaan ya?”

Meira tahu kalau temannya itu nggak bakal kasih ide a pa – pa, karena Chika emang nggak punya pengalaman ngasih hadiah ke cowok. Dia mau tanya kakaknya yang di Bandung, tapi dia pikir, apa nggak malu – maluin nanya hadiah buat cowok inceran ke  kakaknya, di Bandung lagi, apa nggak kejauhan. Ogah ah… pikir Meira, malu kali.

Tanpa pikir panjang Meira pun berangkat seorang diri ke mall. Dia keliling – keliling, mencari kira – kira hadiah apa yang cocok untuk PakAlex. Sampailah  ia pada sebuah butik yang menjual pakaian kantor untuk laki – laki. Meira memutuskan untuk membelikan Pak Alex kemeja cowok dan dasinya. Seperti yang dia lihat selama ini, Pak Alex lebih banyak memakai kemeja dari pada T-shirt kayak cowok – cowok kebanyakan. Dengan mengandalkan kepiawaiannya dalam memilih, Meira pun menemukan setelan kemeja dan dasi yang cocok untuk Pak Alex. Dia memilih kemeja garis – garis merah marun dan dasi yang sesuai.

Tanpa terasa sudah hampir 5 jam Meira keliling – keliling mall. Dia merasa lapar, dan akhirnya memutuskan untuk makan di salah satu café yang tidak jauh dari butik tempat ia membeli kemeja. Sebenarnya Meira paling malas untuk makan di luar sendiri, tapi apa boleh buat, saat itu cacing – cacing di perut Meira sudah meraung – raung.

Sesampai di cafe, dia melihat sekeliling, mencari tempat duduk yang kosong. Setelah itu dia memanggil pelayan untuk memesan makanan. Sambil menunggu  pesanannya datang, Meira membuka tas dari butik tadi, dia melihat lagi apakah kemeja yang baru  ia beli itu cocok untuk Pak Alex. Namun ketika  ia membuka tas, eh …. matanya tertuju  pada seorang cowok yang sedang makan di café yang sama, sekilas terlihat bahwa cowok itu makan bersama teman – temannya. “Oh my God!” seru Meira dalam hati. Bukankah cowok yang dia lihat  itu adalah Pak Alex? Saat Meira memandang ke arahnya, Pak Alex juga menatapnya. Oh no! Spontan, jantung Meira berdetak lebih kencang. Meira menatap tanpa berkedip, namun Pak Alex biasa aja, dia kemudian berpaling dan ngobrol bareng teman – temannya. “Sialnya!” pekik  Meira dalam  hati. Padahal Meira pingin menyapa Pak Alex, tapi apa daya, sepertinya Pak Alex nggak sadar dengan kedatangannya. Meira hanya menelan ludah.

“Ya sudahlah,” pikir Meira.

“Aku kan udah menemukan hadiah yang cocok untuk Pak Alex!” katanya menghibur diri.

Pelayan sudah datang mengantarkan makanannya. Saat  makan, Meira mendengar pembicaraan cewek – cewek yang berada di sebelah tempatnya makan.

“Ya ampun, cakep banget sih tuh cowok!” kata seorang yang berambut pirang pada kedua temannya.

“Iya, sumpah cakep banget!”, kata yang satunya menanggapi.

“Kalau aja nih aku punya cowok kayak dia, yakin deh aku nggak bakalan ngelirik cowok lain!”, teman yang lainnya ikutan berkomentar.

Dalam hati aku mengiyakan apa yang mereka katakan. Rasanya aku pingin ikutan berkomentar dalam forum mereka.

Meira ingin bilang, “Bukan hanya ganteng, dia juga smart, pokoknya dia adalah cowok idaman semua ceweklah, termasuk aku!”

“Bener – bener nggak salah aku  jatuh hati padanya,” kata Meira dalam hati.

Setelah puas menghabiskan makanannya, Meira  langsung bergegas pulang. Dia pingin segera besok, dia pingin segera memberi hadiah istimewa itu pada pujaan hatinya.

Sesampai di rumah, Meira membungkus kemeja itu dengan kertas kado bergambar hati. Dia juga menyelipkan kartu ucapan di dalamnya. Kartu  itu bertuliskan “Pak Alex, kemeja dan dasi ini untuk Bapak. Maaf kalau saya telah lancang memberi Bapak hadiah  ini. Saya hanya ingin mengucapkan Happy Birthday buat Bapak, semoga kedepannya apa yang Bapak inginkan tercapai. Jujur, saya menaruh hati saat pertama kali bertemu Bapak.  Tapi saya tidak mengharapkan balasan dari Bapak. Dengan melihat senyuman Bapak setiap hari saya sudah bahagia. Saya juga sadar, Bapak dan saya sangatlah jauh berbeda. Saya  hanya ingin Bapak mengetahui apa yang saya rasakan. Cuma itu. Terima kasih karena Bapak telah membuat  saya bisa merasakan rasanya jatuh cinta, walaupun orang yang saya cintai tidak tepat untuk saya. Sekali lagi  maafkan kesalahan saya yang telah dengan diam  – diam mengagumi Bapak. Saya sangat berharap Bapak mau memakai kemeja ini saat Bapak mengajar besok. Happy Birthday Pak Alex”.

Meira menulis kartu ucapan sepanjang itu dangan sepenuh hati, tanpa terasa air matanya jatuh membasahi kartu  itu. Meira tak menulis identitasnya disana. Dia tidak mau Pak Alex tahu siapa dia.

Keesokan harinya, Meira datang ke kampus pagi – pagi sekali. Secara menyelinap ia masuk ke ruang dosen, ia letakkan kado untuk Pak Alex di mejanya. Sebelumnya, Meira mencium kado itu, dan betapa kagetnya  ia saat  menemukan sebingkai foto di meja itu. Dia tahu foto siapa itu. Ya… itu memang foto Pak Alex, tapi Pak Alex tidak sendiri, di sebelahnya ada seorang cewek. Meira tahu sipa cewek itu. Dia adalah kakak Meira yang tinggal di Bandung. Meira dan kakaknya memang tidak tinggal serumah, karena ayah dan ibu mereka bercerai, Meira ikut ibunya yang menikah lagi dan kakaknya ikut ayahnya yang juga menikah lagi. Belakangan ini ia dapat kabar dari ayahnya, bahwa kakaknya itu sudah bertunangan dengan seorang dosen. Meira memang tidak pernah ketemu sama tunangan kakaknya itu, karena saat pertunangan Meira sedang berada di luar negeri bersama ayah barunya yang orang asing itu. Sekarang  tahulah ia siapa sebenarnya tunangan kakaknya, ya dia adalah Pak Alex!

Hati hancur sudah pasti. Menagis adalah hal yang wajar bagi Meira saat ini. Tapi Meira lega, karena cintanya pada Pak Alex nggak begitu dalam, sehingga dia tidak membutuhkan waktu banyak untuk bisa melupakan Pak Alex. Disisi lain Meira senang, karena kakaknya mendapat orang yang tepat.